Semangat dan Keberanian Muslimah

~ Sabtu, 11 Desember 2010
Anas Ra. berkata, “Sungguh saya melihat Aisyah binti Abu Bakar dan Ummu Sulaim (di medan perang Badar), keduanya mengangkat tsaub-nya (baju terusan) dari telapak kaki, sampai saya melihat kedua betis mereka. Keduanya memasukkan air ke dalam geriba (tempat air dari kulit), lalu meminumkan air itu ke mulut mujahid yang terluka, kemudian keduanya kembali untuk memenuhi geriba-geriba tersebut dan datang lagi untuk meminumkan air di mulut mereka.”


Pada zaman Rasulullah Saw., para sahabat memiliki semangat yang tinggi untuk mengikuti berbagai macam pertempuran. Begitu juga dengan para shahabiyah (sahabat wanita Rasulullah), mereka pun mempunyai semangat jihad yang bergelora. Mereka senantiasa siap siaga. Jika ada pengumuman perang, mereka akan segera mengikutinya. Ummu Ziyad Ra. berkata, “Ketika terjadi perang Khaibar, saya beserta enam orang wanita lainnya ikut dalam peperangan tersebut. Ketika Rasulullah Saw. mengetahui kehadiran kami, beliau memanggil kami. Terlihat pada wajah beliau sedikit raut marah. Rasulullah Saw. bertanya, ‘Siapa yang menyuruh kalian datang kemari, dan dengan siapa kalian datang?’

Kami menjawab, ‘Wahai Rasulullah, kami mengetahui cara membalut luka yang diperlukan dalam pertempuran dan kami datang kemari membawa perban dan obat-obatan untuk para mujahid yang terluka, yang mungkin akan diperlukan dalam pertempuran. Kami juga menyiapkan panah-panah untuk para mujahid yang sedang berperang. Jika mereka terluka atau sakit, kami akan merawat dan mengobatinya. Dan jika mereka lapar, kami akan menyiapkan makanan dan minuman untuk mereka’. Setelah Rasulullah Saw. mendengar penjelasan kami, akhirnya beliau mengizinkan kami mengikuti pertempuran tersebut.”

Allah telah menanamkan keberanian dalam jiwa orang-orang beriman, tak terkecuali para wanita muslimah. Walaupun berjihad (berperang) hanya diwajibkan bagi kaum laki-laki, namun bukanlah halangan bagi wanita untuk berjihad di sisi yang lain, seperti menginfakkan hartanya di jalan Allah, menyiapkan peralatan perang dan merawat para mujahidin yang terluka. Tapi tak jarang pula para shahabiyah memiliki keinginan untuk bertempur layaknya seorang laki-laki yang bertempur.

Ketika terjadi perang Khandaq, Rasulullah Saw. menempatkan seluruh kaum wanita dalam sebuah benteng, dan Rasulullah Saw. memerintahkan Hasan bin Tsabit Ra. menjaganya dan tinggal bersama mereka. Hal ini menjadi kesempatan bagi orang-orang Yahudi untuk menjadi musuh dalam selimut. Satu pasukan dari kaum Yahudi berniat untuk menyerang wanita-wanita muslimah di dalam benteng tersebut. Maka salah seorang Yahudi dikirim masuk menjadi mata-mata untuk melihat keadaan di dalam benteng. Ketika dia sampai di atas benteng, Shafiyyah Ra. – bibi Rasulullah Saw. – telah melihat kehadirannya, lalu Shafiyyah Ra. berkata kepada Hasan Ra., “Hai Hasan, ada seorang mata-mata dari kaum Yahudi akan memasuki benteng kita, keluarlah kamu, dan bantulah orang Yahudi itu!” Oleh karena Hasan bin Tsabit Ra. adalah seorang yang lemah, maka dia tidak berani melakukan hal itu. Akhirnya Shafiyyah Ra. mengambil sebuah patok kemah dan keluar untuk membunuh Yahudi tersebut, lalu patok itu dihantamkan ke kepala Yahudi tadi hingga tewas.

Setelah itu Shafiyyah Ra. kembali ke dalam benteng dan berkata kepada Hasan Ra., “Hasan, karena dia adalah seorang laki-laki yang bukan muhrim saya, pergilah engkau untuk mengambil barang-barangnya, dan lepaskan pakaiannya, lalu penggallah lehernya!” Sekali lagi, Hasan Ra. tidak menyanggupi untuk melakukan hal itu. Akhirnya, Shafiyyah Ra. sendiri yang keluar lalu melepaskan pakaian dan mengambil barang-barangnya, kemudian memotong lehernya dan melemparkan kepalanya ke luar benteng. Ketika kaum Yahudi melihat kejadian ini, maka mereka berkata, “Kita sudah menduga, Muhammad tidak akan meninggalkan wanita-wanita itu sendirian, pasti di sana terdapat kaum lelaki untuk menjaga wanita-wanita itu.”

Ketika perang Hunain terjadi, Ummu Sulaim Ra. yang ketika itu sedang hamil ikut menyertai pertempuran tersebut. Bayi yang berada dalam kandungannya saat itu adalah Abdullah bin Thalhah Ra.. Ummu Sulaim Ra. senantiasa membawa tombak dan berdiri di samping Rasulullah Saw.. Ketika Rasulullah Saw. bertanya, “Untuk apakah tombak ini?” Ummu Sulaim Ra. menjawab, Jika datang orang kafir, saya akan melemparkan tombak ini ke perutnya.” Dalam perang Uhud, Ummu Sulaim Ra. juga merawat orang-orang sakit dan para mujahid yang terluka. Anas Ra. berkata, “Saya melihat Aisyah Ra. dan Ummu Sulaim Ra. senantiasa mengisi tempat air, dan memberi minum para mujahid yang terluka. Jika air itu habis, mereka akan mengisinya kembali.”

Lihatlah wahai saudariku, sesungguhnya engkau adalah orang yang pemberani, penuh semangat dan keimanan. Kepribadianmu menunjukkan perbedaan yang nyata, yang tidak dimiliki oleh wanita kafir. Telah banyak contoh-contoh teladan lainnya, tentang keberanian dan jihad wanita muslimah. Tidaklah cukup saya menuliskannya satu persatu di sini. Karena hal itu tidak akan habis-habisnya ditulis. Kepahlawanan muslimah mujahid telah mengisi lembaran-lembaran sejarah dari abad demi abad. Dulu ada Ummu Sulaim, Aisyah, Ummu Haram, Shafiyyah, Khansa dan Ummu Ziyad. Di zaman sekarang ada Zainab al-Ghazali, Hamidah Quthb, Aminah Quthb, Fatimah an-Najjar, Ayat Akhras, dan Wafa Idris. Beruntunglah engkau karena telah dianugerahi keberanian ini.

0 komentar:

Posting Komentar