Cermin Hati

~ Selasa, 21 Desember 2010

Kita dapat melihat fisik kita saat kita bercermin. Bagaimana rupa, rambut, tangan, badan, kulit kita, dan lain-lain. Tujuan dari cermin adalah memantulkan kembali siapa diri kita. Tapi hal itu tergantung dari cermin itu sendiri, apakah bersih atau kotor. Cermin yang kotor, tidak dapat memperlihatkan diri kita sebenarnya. Kita agak kesulitan untuk mengenali bagian tubuh kita yang tidak terlihat oleh pandangan mata kita. Jika saja ada goresan pena di wajah kita, kita tidak mengetahuinya, karena kita melihat bahwa yang kotor itu cerminnya, bukan wajah kita.

Saudariku, demikianlah cermin yang ada di luar dunia kita. Apa yang ada di dalam diri kita jauh lebih besar daripada apa yang ada diluar diri kita. Penyakit yang ada dalam tubuh kita, lebih berbahaya daripada penyakit yang terlihat dipermukaan. Penyakit jiwa lebih berbahaya daripada penyakit fisik. Penyakit fisik bisa disembuhkan dengan kesegaran ruhani. Sementara penyakit jiwa tidak dapat disembuhkan dengan berbagai macam obat-obatan fisik. Ia hanya bisa disembuhkan oleh kesadaran ruhaniah. Sesungguhnya cermin fisik hanya menyentuh dunia luar kita, tetapi ia tidak mampu menyentuh dunia dalam kita. Ia tidak dapat menyentuh perasaan, kegelisahan, ketakutan, ataupun ketenangan kita. Tidak mungkin kita melihat perasaan kita dengan penampilan fisik semata. Bisa saja kita menutup-nutupi kekurangan diri kita dengan cara berhias, berpakaian rapi, berjalan anggun, dan berbicara sopan, tetapi ketika dihadapkan pada ujian dan cobaan, hatinyalah yang berbicara.

Seberapa dalam kita mengenal diri kita, tergantung bersih atau tidaknya cermin yang ada di dalam diri kita. Cermin yang bersih menimbulkan kepekaan ruhani yang tinggi. Pemiliknya sangat sensitif pada hal yang terkait akhirat, iman, ibadah, akhlak mulia, dan syariat. Rasulullah Saw. biasa beristighfar seratus kali sehari, padahal beliau sudah dihapuskan dosa-dosanya baik yang sebelum maupun sesudahnya. Para sahabat Rasulullah sering mengatakan, “Andaikan aku sebatang pohon yang ditebang...Andaikan aku rumput yang diinjak-injak...Andaikan aku jerami yang dibakar...” Kata-kata itu timbul dari hati yang bersih sehingga menghasilkan kepekaan yang menakjubkan.

Kita tidak heran dengan orang yang malu ketika berhadapan dengan orang lain, tetapi Abu Bakar menutup wajahnya saat di WC. Beliau malu kepada Allah Swt. Pada suatu ketika Abu Bakar kedatangan rombongan dari negeri Yaman. Salah seorang dari rombongan itu membaca al-Quran, anggota rombongan lain yang mendengarnya pun menangis. Melihat hal itu, Abu Bakar kagum. Beliau mengatakan bahwa tangisan itu hadir dari hati yang bersih.
 
Orang-orang saleh tergetar hatinya tidak hanya pada saat melakukan ibadah, tetapi juga ketika melihat suatu fenomena atau mendengar sebuah syair saja. Orang-orang saleh begitu lembut perasaannya. Ketika nasihat dia dengarkan, nasihat itu memantul pada cermin hati, memberitahukan siapa diri kita sebenarnya. Dengan jelas dia melihat dirinya sebenarnya. Ketika melihatnya, dia menangis karena banyak sekali kekurangan dan dosa-dosa yang telah ia lakukan.

Anas bin Malik Ra. berkata, “Rasulullah Saw. berkhutbah kepada kami, sama sekali aku belum pernah mendengar khutbah yang seperti itu sebelumnya. Rasulullah Saw. bersabda, ‘Jika kalian mengetahui apa yang aku ketahui, sungguh kalian akan banyak menangis dan sedikit tertawa’. Maka para sahabat menutupi wajah-wajah mereka, dan sesaat terdengarlah suara isakan tangis.”

Pada suatu ketika Rasulullah Saw. membaca ayat, “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18).

Kemudian Nabi Saw. berbicara tentang kesombongan. Beliau mengatakan bahwa hal itu adalah perkara yang besar. Maka Tsabit bin Qais yang duduk di sisi Rasulullah Saw. menangis. Lalu Rasulullah Saw. berkata kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Dia menjawab, “Wahai Nabi Allah, sesungguhnya aku ini orang yang sangat mencintai keindahan, sampai-sampai tali terompahku aku bagus-baguskan?” Rasulullah Saw. bersabda, “Engkau penghuni surga, bukan termasuk kesombongan lantaran memperbagus kendaraan dan tempat tinggal. Akan tetapi kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.”

Abu Musa al-Asy’ari Ra. berkhutbah dihadapan orang-orang di Bashrah. Dalam khutbahnya dia menyinggung tentang api neraka. Dia menangis sampai airmatanya jatuh ke mimbar. Maka orang-orang pun menangis sejadi-jadinya.

Zirr bin Hubaisy menulis surat kepada Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Lewat surat itu dia menasihatinya. Pada akhir surat itu tertulis:
Wahai Amirul Mukminin, kesehatan yang ada padamu janganlah membuatmu terlena mengharapkan panjangnya masa hidup. Sesungguhnya engkaulah yang lebih tahu akan dirimu! Dan ingatlah apa yang dikatakan oleh orang-orang generasi awal:
Apabila orang dewasa, anak mereka telah lahir
Dan jasad mereka telah rusak karena ketuaan
Dan jatuh sakit pun telah biasa menimpanya
Itulah masa panen telah dekat

Setelah membaca surat itu, Khalifah Abdul Malik pun menangis keras.
Saudariku, ketika cermin hati kita tidak bersih, kita tidak dapat mengenal diri kita sebenarnya. Kekotoran kita ditutup-tutupi dengan keadaan cermin yang kotor. Jika sudah tidak dapat mengenal diri kita, kita tidak dapat mengenal Tuhan kita. Naudzubillahi mindalik.

0 komentar:

Posting Komentar