Keutamaan Doa dan Istighfar 3 X

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud r.a., “Rasulullah Saw. suka mengulangi doa sebanyak tiga kali dan beristighfar sebanyak tiga kali.” (HR. Abu Dawud)

~ Rabu, 26 Januari 2011 1 komentar

Memperoleh Kecerdasan Melalui Ketakwaan

Kecerdasan diperoleh dari ketakwaan kepada Allah Swt. “Bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah akan mengajarimu.” (QS. al-Baqarah: 282) “Sebab itu bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya kamu berada di atas kebenaran yang nyata.” (QS. an-Naml: 79)

~ Senin, 10 Januari 2011 0 komentar

Muslimah Menjaga Kesehatan

Mendengar kabar dari seorang teman. Dia kini terbaring lemah ditempat tidur. Bila kakinya diturunkan atau diangkat akan terasa sakit luar biasa. Kejadiannya beberapa minggu yang lalu saat akan berlibur dengan anak dan istrinya ke Bali. Dia terjatuh di kamar mandi. Begitu cepatnya perubahan kesehatannya. Tapi segala sesuatu ada sebab dan akibatnya. Saya banyak belajar dari kejadian ini. Jika tidak merawat kesehatan saya sejak dini, niscaya akibatnya sama seperti teman saya itu. Allah tidak menzalimi hamba-Nya tapi hamba itulah yang menzalimi dirinya sendiri.

~ 0 komentar

Jika Allah Membuka Aib Kita

Jika saja aib kita dibuka Allah, dan itu sangat mudah bagi Allah, maka terhinalah kita. Ternyata selama ini apa yang ada dalam diri kita lebih buruk daripada yang terlihat oleh banyak orang. Ditutupnya aib kita merupakan salah satu nikmat terbesar dari Allah, dan kita seharusnya mensyukuri nikmat tersebut.

~ 0 komentar

Menyelesaikan Pekerjaan Walaupun Sedekit Demi Sedikit

Kita harus mengerjakan pekerjaan kita walaupun sedikit demi sedikit. Jangan sampai kita melepaskannya sama sekali sebelum pekerjaan itu selesai. Jika melepaskanya sebelum selesai, kita akan terjebak pada lingkaran kemalasan yang tak berujung. Setelah itu kita akan memasuki dunia yang hampa oleh kebaikan dan akan terisi berbagai bentuk kemaksiatan. Sesungguhnya, kelelahan kita dalam mengerjakan pekerjaan kita lebih ringan daripada melepaskan diri dari pekerjaan yang sedang kita kerjakan.

~ Sabtu, 08 Januari 2011 0 komentar

Sikap Optimis Muslimah

Sikap optimis bagaikan intan berlian yang memancarkan kemilau dari segala sisi. Saya melihat seorang yang optimis, jiwanya khusyu dan tenang, pribadinya menyenangkan dan berakhlak baik, mungkin dia tidak banyak bicara tetapi orang-orang banyak mendekatinya, dia gesit, lincah, dan antusias dalam beramal, meskipun kesulitan menghadang dia hadapi dengan tenang. “Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 171).

~ 0 komentar

Pelajaran dari Kisah Thalut

Thalut dan tentaranya yang tidak begitu banyak akan menyerang Jalut yang memiliki tentara jauh lebih banyak. Ketika dalam perjalanan, Thalut dan tentaranya menemukan sebuah sungai. Thalut telah mewanti-wanti tentaranya agar meminum sekedarnya saja. Tapi sebagian tentara Thalut meminum hingga puas, sehingga akhirnya mereka tidak berdaya untuk melanjutkan perjalanan jihad. Tinggallah Thalut bersama tentaranya yang tersisa. Dengan jumlah tentara yang makin sedikit itu, Thalut meraih kemenangan. Di dalam kisah ini terkandung dua hukum kemenangan: 

1. Ambillah dari dunia ini sekedarnya saja dan gunakanlah sisa waktu yang banyak itu untuk meraih keridhaan Allah. Janganlah dunia ini memperdayakanmu karena akan menghinakan dan melemahkanmu. Keridhaan Allah jauh lebih berharga di banding apa-apa yang ada di muka bumi.

2. Kemenangan tidaklah diraih dari banyaknya pengikut atau kuatnya persenjataan. Tapi ia diraih dari ketaatan yang total kepada Allah.

~ 0 komentar

Motivasi Menulis Muslimah

Saudariku, setidaknya ada tiga hadits yang memberi motivasi kepadaku untuk menulis. Hadits pertama berbunyi, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya. Hadits kedua berbunyi, Allah mencintai hamba-Nya yang mengamalkan dan mengajarkan ilmunya. Dan hadits ketiga berbunyi, salah satu amal yang tidak terputus meskipun seseorang telah wafat adalah ilmu yang dimilikinya memberikan nilai manfaat bagi orang lain.

Hadits-hadits itu ibarat ruh yang menggerakkan jasad ini. Ia adalah semangat yang sebelumnya lemah. Ia bernilai tinggi lagi mulia. Ia datang menggedor semangat kita untuk selalu memberikan manfaat kepada orang lain. Kita sebarkan ilmu yang kita miliki baik lewat lisan maupun tulisan. Terlebih dengan tulisan karena ia jauh lebih lama pengaruhnya ketimbang lewat lisan. Tulisan akan menjadi bagian dari sejarah dan penulisnya telah menjadi pelaku sejarah itu sendiri. Para penulis adalah pionir perubahan dan perbaikan.

Semangat untuk memberikan manfaat dan nilai-nilai positif kepada sesama, harus selalu ada dalam hati dan pikiran penulis muslim. Karena sejak awal menulis diniatkan dengan niat yang baik, maka Insya Allah hasilnya juga akan baik. Sedangkan penulis yang tidak tahu tujuan untuk apa ia menulis, maka ia berniat dengan hawa nafsu dan khayalannya, yaitu menghalalkan segala cara dan berfokus pada materi semata.

Segala pekerjaan yang kita lakukan di awali dari niat. Oleh karena itulah, niat adalah sesuatu yang maha penting. Niat akan menentukan langkah kita selanjutnya. Niatlah yang membentuk visi dan misi kita. Karena keutamaan niat, para ulama sering mencantumkan hadits di mukadimah buku-buku yang ditulisnya. Sebelum mulai menulis lebih jauh lagi, hadits itu seolah berkata, “Karena hal apakah engkau menulis?” Begitu juga ketika mulai membaca, hadits itu hadir mengingatkan kita, “Untuk apa membaca buku ini? Apakah untuk mendapatkan ilmu lalu engkau amalkan atau sekedar membangga-banggakan diri?”

Niat yang tulus karena Allah akan jauh lebih dahsyat pengaruhnya daripada niat yang murahan. Niat yang tulus akan membangkitkan keberanian dari jiwa-jiwa pengecut, membangkitkan ketekunan dari jiwa-jiwa pemalas, dan membangkitkan semangat yang besar dari jiwa-jiwa si cepat bosan. Ibnu Abbas Ra. berkata, “Sesungguhnya seseorang hanya dipelihara (oleh Allah) sesuai dengan kadar niatnya.”

~ Jumat, 07 Januari 2011 0 komentar

Bagaimana Muslimah Membaca

“Dahulu, perbedaan utama antarsetiap orang dalam masyarakat adalah antara ‘yang kaya’ dan ‘yang miskin’. Sekarang, perbedaan utama adalah antara ’yang kaya pengetahuan’ dan ’yang miskin pengetahuan,” demikian kata Brian Tracy, penulis buku Maximum Achievement dan salah seorang pembicara profesional dan penyelenggara seminar top di Amerika.

Salah satu pakar, seorang jenius dalam bidang komputer dan pendiri perusahaan Microsoft, Bill Gates dalam bukunya The Road Ahead mengatakan, "Dalam dunia yang berubah, pendidikan adalah modal utama bagi seseorang agar bisa beradaptasi. Ketika perekonomian berubah, setiap orang dan kelompok masyarakat yang terdidik dengan baik cenderung melakukan hal-hal yang terbaik. Biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat untuk menguasai keterampilan baru akan meningkat. Maka, nasihat saya adalah alangkah baiknya jika setiap orang mendapatkan pendidikan formal yang baik dan kemudian tetap terus belajar. Dapatkanlah keterampilan dan kecakapan baru sepanjang hayat Anda.”

Majalah Time, dalam salah satu berita utamanya, “Pekerjaan di Era Ketidakamanan,” berkomentar, “Para pakar sependapat bahwa masa depan adalah milik para pekerja otak, yang menguasai komputer pribadinya, tahu banyak tentang serat optik dan e-mail, dan apa pun yang menggantikannya… seorang pekerja teknologi tinggi harus siap kembali ke sekolah dan mempelajari keterampilan baru, dengan biaya sendiri, jika perusahaan tidak bersedia membiayainya, minimal setiap lima hingga sepuluh tahun.”

John Sculley, mantan Direktur Apple Computers, mengatakan, ”Dalam tata ekonomi baru, sumber-sumber daya strategis tidak lagi muncul dari dalam tanah. Sumber-sumber daya strategis adalah ide-ide dan informasi yang lahir dari pikiran kita. Akibatnya, kita boleh jadi telah bergeser dari kaya sumber daya dalam tata ekonomi lama menuju miskin sumber daya dalam tata ekonomi baru dalam waktu singkat. Sistem pendidikan publik kita tidak berhasil menggeser pengajaran hafalan fakta-fakta menjadi pembelajaran keterampilan berpikir kritis.”

Seorang futurolog, Daniel Burn, penulis Techno Trends – 24 Technologies That Will Revolutionize Our Lives, menekankan, “Masa depan adalah milik mereka yang mampu untuk tetap terus berlatih dan belajar. Anggaplah itu sebagai peningkatan berkala aset kemanusiaan Anda sepanjang karier. Marilah hadapi perubahan, permata perusahaan adalah informasi dan SDM-nya, bukan bangunan dan perangkat kerasnya. Kualitas SDM tentu dapat ditingkatkan, tetapi itu membutuhkan investasi.”

Para peneliti terkemuka yang saya kutip pernyataannya di atas telah begitu jelas mengungkapkan sebuah fakta bahwa kita – baik laki-laki maupun perempuan – membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Sebenarnya fakta ini bukan hal baru yang perlu ditekankan dalam zaman modern ini. Fakta yang mengungkapkan bahwa seorang muslim diwajibkan menuntut ilmu mulai dari buaian hingga liang lahat adalah terdapat di dalam ajaran agama Islam. Sehingga sudah sepantasnya seorang muslim menuntut ilmu setinggi-tingginya. Seorang muslimah berhak menyandang gelar Profesor Doktor Master jika dia mampu.

Belajar bukan hanya mengetahui jawaban-jawaban. Juga bukan hanya mengetahui serpihan dan penggelan dari suatu batang tubuh pengetahuan. Belajar tidak hanya diukur dengan indeks prestasi dan nilai ujian semata. Belajar bukan hanya aktivitas menuliskan di atas papan tulis apa yang diketahui orang lain. Belajar adalah petualangan seumur hidup, perjalanan eksplorasi tanpa akhir untuk menciptakan pemahaman personal kita sendiri.

Efek Pendidikan bagi Kesehatan
Para biarawati The School Sisters of Notre Dame tidak hanya bisa mencapai usia rata-rata 85 tahun (banyak yang lebih dari itu), mereka juga tidak tampak menderita dementia, Alzheimer dan penyakit-penyakit kelelahan otak lainnya yang lazim dialami penduduk awam dalam usia lebih muda.

Hampir tujuh ratus biarawati sepakat menyumbangkan otak mereka bagi penelitian medis setelah kematian mereka. Profesor bidang kedokteran preventif Universitas Kentucky, David Snawdon, yang telah menyelidiki lebih dari seratus otak biarawati itu, telah menemukan satu perbedaan yang menggugah keingintahuan kita.

Para biarawati yang mendapat pendidikan tinggi itu, yang mengajar dan terus-menerus menghadapkan pikiran mereka dengan berbagai masalah, ternyata berumur lebih panjang dibandingkan para biarawati berpendidikan rendah yang hanya membersihkan kamar atau bekerja di dapur. Profesor Snowdon, yang memimpin Pusat Penelitian Penuaan Sanders-Brown University, menemukan bahwa para biarawati yang berpendidikan lebih baik memiliki jauh lebih banyak sambungan sel saraf yang memungkinkan mereka mampu mengatasi kelumpuhan otak.

Dalam sebuah penelitian di Universitas California, Los Angeles, para peneliti menyelidiki bagian otak yang berfungsi memahami kata-kata – yaitu daerah Wernicke – dan menemukan bahwa jumlah dendrit mempunyai korelasi dengan kualitas belajar seseorang.

Mereka yang berpendidikan tinggi mempunyai dendrit lebih banyak dibanding dengan mereka yang hanya menamatkan sekolah menengah, dan lulusan sekolah menengah memiliki lebih banyak dendrit daripada mereka yang hanya menyelesaikan sekolah dasar. Kesimpulannya, pendidikan memberikan latihan atau praktik kepada anak didik tentang perbendaharaan kata, cara mengucapkan dan mendengarkan kata-kata, suatu jenis tertentu aktivitas mental istimewa yang memperkaya daerah Wernicke dengan dendrit-dendrit.

Setara dalam Memperoleh Pendidikan
Tidak benar jika ada yang mengatakan bahwa pendidikan tinggi itu hanya diperuntukkan bagi kalangan pria saja. Para ulama telah menegaskan bahwa hadits yang mewajibkan menuntut ilmu adalah untuk muslim laki-laki dan muslim perempuan. Tidak terkecuali!

Banyak sekali riwayat yang menyebutkan kesetaraan dalam memperoleh pendidikan. Salah satunya diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri Ra., dia berkata: Beberapa orang mengadu kepada Nabi Saw., ”Kaum laki-laki mengungguli kami dalam menerima ajaran agama dari Anda. Karena itu, berilah kami kesempatan sehari untuk menerima ajaran agama yang Anda sampaikan!” Rasulullah Saw. berjanji untuk bertemu dengan mereka pada suatu hari, lalu dalam pertemuan itu beliau memberikan nasehat dan ajaran agama kepada mereka...”

Bagi Anda yang Sudah Berkeluarga
Bagi seorang muslimah yang sudah berkeluarga, tentu waktunya akan banyak tersedot dalam mengurus suami dan anak-anak. Apalagi kalau anak-anaknya masih balita, dia harus mengasuhnya hampir 24 jam. Tapi, apakah selama bertahun-tahun Anda tidak membaca dengan alasan mengurus suami dan anak-anak? Tentu tidak. Anda tentu ingin tahu perkembangan berita di luar sana, bukan sekedar gosip antar ibu-ibu rumah tangga.

Anda bisa saja membaca apa yang sekiranya Anda perlukan. Seperti, misalnya, membaca buku/ majalah tentang resep masakan. Anda ingin membuat masakan yang tidak itu-itu saja. Suami dan anak-anak pasti senang dengan masakan baru Anda. Dan keinginan Anda itu sungguh mulia dan akan menambah nilai Anda di mata suami dan anak-anak Anda. Pujian-pujian akan mengalir pada diri Anda jika masakan baru Anda enak dan memuaskan hati mereka. Anda berhak mendapatkan dua pahala, pahala dari membaca dan pahala dari menyenangkan hati suami. Dan masing-masing pahala akan dilipatgandakan oleh Allah, Insya Allah.

Anda juga bisa membaca buku-buku tentang cara mendidik anak. Bukankah ini sesuai dengan apa yang tengah Anda jalani? Anak-anak Anda tentu butuh pendidikan yang benar dan sesuai dengan karakter zaman mereka. Sehingga mereka dapat tumbuh dengan sehat, cerdas, dan saleh. Jika Anda dapat melakukannya dengan baik, sesungguhnya Anda telah menjalankan salah satu fungsi Anda sebagai orangtua.

Intinya, kegiatan membaca Anda adalah sarana untuk mendatangkan manfaat bagi diri Anda dan keluarga Anda. Anak-anak Anda akan melihat Anda yang selalu asyik membaca dan Anda adalah teladan bagi mereka. Jangan heran jika anak-anak Anda ingin membaca buku seperti yang Anda sering lakukan. Ini adalah cara paling efektif agar anak-anak Anda mulai rajin membaca. Cara ini lebih efektif daripada Anda menyuruh mereka untuk rajin membaca sementara mereka tidak pernah melihat Anda membaca.

Agar Antusias dalam Membaca
Seperti yang telah saya singgung sedikit di atas, agar Anda antusias dalam membaca, Anda harus tahu manfaat jika Anda membaca buku yang ingin Anda baca. Jika manfaatnya kurang, Anda tidak akan dapat bertahan lama memegang dan membaca buku tersebut. Setelah setengah jam membacanya, mungkin Anda akan langsung melemparkannya.

Anda harus bertanya di dalam hati, ”Apa manfaatnya bagiku?”. Pertanyaan tersebut harus dijawab berdasarkan keinginan yang benar-benar timbul di dalam diri Anda, bukan keinginan yang main-main atau sekedarnya saja. Sentuhlah buku itu dan katakan, saya sangat membutuhkan buku ini karena saya tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan dan segera ingin merasakan kebahagiaan. Tentunya buku ini akan membantu saya memberikan kiat-kiat agar saya dapat merasakan kebahagiaan tersebut – misalnya. Semakin banyak manfaatnya bagi Anda, semakin besar antusiasme Anda dalam membaca. Coba saja!

Memiliki Perpustakaan Pribadi
Seorang muslimah hendaknya memiliki beberapa buku yang dapat dia baca sehari-hari. Buku-buku yang “wajib” dimiliki adalah seperti al-Quran dan terjemahannya, tafsir al-quran, hadits shahih bukhari dan muslim, sirah nabawiyah, fikih, dan buku-buku yang terkait dengan tuntunan Islam bagi muslimah.

Buku tafsir al-Quran yang baik, misalnya, adalah karya Dr. Muhammad Nasib ar-Rifa’i yang telah berhasil meringkas Tafsir Ibnu Katsir dalam hanya empat jilid saja. Buku ringkasan Hadits Shahih Bukhari dan Muslim masing-masing karya Imam adz-Zabidi dan Imam al-Mundziri adalah contoh buku yang harus Anda miliki. Buku Sirah Nabawiyah yang bagus adalah karya Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, karya Dr. Said Ramadhan al-Buthi atau karya Syaikh Muhammad al-Ghazali. Buku Fikih yang bagus di antaranya Fikih Sunnah karya Sayyid Sabiq, buku Fatwa-Fatwa Kontemporer dan Halal dan Haram karya Dr. Yusuf al-Qaradhawi. Sedangkan buku tentang tuntunan menjadi muslimah yang baik di antaranya berjudul Riyadush Shalihat karya Badawi Mahmud asy-Syaikh dan Jati Diri Wanita Muslimah karya Dr. Muhammad Ali al-Hasyimi.

Buku-buku itu hendaknya menjadi rujukan dan tuntunan pertama dalam menjalani kehidupan dunia ini. Setelah itu bolehlah melengkapinya dengan buku-buku bermanfaat lainnya.

Intinya, sediakan uang untuk membeli buku-buku terbaik. Dan sediakan waktu dalam sehari untuk membacanya. Ingatlah bahwa pengetahuan membutuhkan investasi dan waktu yang cukup agar kita dapat berkembang lebih maju dan lebih baik dari hari ke hari. Jangan sampai kebutuhan kita dalam membaca sangat rendah, karena kebutuhan akan ilmu adalah melebihi kebutuhan akan makan dan minum. Kebutuhan akan ilmu adalah seirama dengan tarikan nafas kita.

Manfaat dari Membaca
Buku adalah teman sejati yang tidak pernah meminta tetapi selalu ingin memberi. Berikut ini beberapa manfaat penting yang akan kita peroleh jika kita rajin membaca:

Hanya sedikit peranti kreativitas yang mampu mengungguli kegiatan membaca dalam mempertinggi kecerdasan verbal/ linguistik. Membaca menambah kosakata dan pengetahuan akan tata bahasa dan sintaksis. Yang lebih penting lagi, membaca memperkenalkan kita pada banyak ragam ungkapan kreatif, dan dengan demikian mempertajam kepekaan linguistik dan kemampuan menyatakan perasaan. Dengan membaca, kita belajar mengenai metafora, implikasi, persuasi, sifat nada, dan banyak unsur ekspresi lain – yang semuanya penting bagi segala jenis seniman, pelaku bisnis, atau penemu.

Bahan bacaan pada umumnya ”memaksa” kita menggunakan nalar, pengurutan, keteraturan, dan pemikiran logis untuk dapat mengikuti jalan cerita atau memecahkan suatu misteri. Dengan demikian, kecerdasan matematis-logis Anda bertambah kukuh.

Banyak buku dan artikel yang mengajak kita untuk berintrospeksi dan melontarkan pertanyaan serius mengenai nilai, perasaan, dan hubungan kita dengan orang lain.

Membaca memicu imajinasi. Buku yang baik mengajak kita membayangkan dunia beserta isinya, lengkap dengan segala kejadian, lokasi, dan karakternya. Bayangan yang terkumpul dari tiap buku atau artikel ini melekat dalam pikiran, dan seiring berlalunya waktu, membangun sebuah bentang jaringan ide dan perasaan yang menjadi dasar bagi ide kreatif. Bayangan ini akhirnya menjadi dasar metafora yang kita tulis, gambar yang kita buat, bahkan keputusan yang kita ambil.

Memberikan kesehatan bagi tubuh. Penelitian menyebutkan bahwa kegiatan membaca yang kita lakukan dapat memberikan kesehatan bagi tubuh, terhindar dari penyakit kepikunan (dimentia), Alzheimer, dan penyakit-penyakit otak lainnya.

Empat Langkah untuk Mengembangkan Rencana Membaca
Langkah 1: Berjanjilah untuk membaca kreatif setiap hari.

Mulailah dengan membuat kontrak perjanjian dengan diri sendiri. Gunakan kata-kata seperti di bawah ini:

Saya, _______________________, dalam upaya menjadi pembelajar sukses, dengan ini menyatakan bersedia membaca majalah, koran, jurnal, buku fiksi atau nonfiksi, atau tulisan lain setiap hari selama, ____ bulan ke depan. Tujuan saya mengadakan kontrak perjanjian membaca ini adalah
A) Untuk meragamkan dan memperdalam sumber-sumber bacaan;
B) Untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran akan dunia;
C) Untuk memperkaya minat dan memuaskan rasa ingin tahu;
D) Untuk melejitkan kemampuan memunculkan ide demi karya kreatif;
E) (isilah dengan tujuan lain yang ingin Anda capai).

Saya akan memperpanjang kontrak ini untuk jangka waktu ____ bulan jika saya telah menyelesaikan masa kontrak jangka pertama, serta merasa bahwa yang saya lakukan tersebut memberi saya manfaat dan kepuasan.

Gantung kontrak ini di dinding ruang kerja atau kamar tidur untuk mengingatkan Anda terus-menerus terhadap komitmen yang telah Anda buat.

Ada cara bagus untuk memastikan bahwa Anda menepati perjanjian tersebut, yaitu dengan membuat jurnal bacaan atau memadukan catatan saat membaca ke dalam jurnal kreatif. Jika Anda memiliki jurnal khusus bacaan, pakailah buku catatan berjilid spiral atau kalender saku untuk mencatat apa saja yang sudah dibaca pada hari itu. Anda mungkin ingin membuat catatan kecil untuk mengingat isi buku yang sudah Anda baca. Sebagai contoh, dalam beberapa hari bisa dihasilkan catatan seperti ini:

3 April – majalah Sastra Annida – terbitan April – melihat-lihat seluruh majalah – ada artikel bagus tentang teknik mengarang cerpen.
4 April – majalah Tarbawi – terbitan April – melihat-lihat seluruh majalah – ada tulisan yang dapat dijadikan renungan sehari-hari.
5 April – Halal dan Haram – baca 100 halaman.
6 April – 66 Wasiat Rasulullah kepada Wanita – baca seluruhnya.
7 April – majalah Ummi – terbitan terbaru – melihat-lihat seluruh majalah – ada resep masakan terbaru.

Begitu seterusnya. Baik Anda memiliki jurnal atau tidak, gunakan latihan ini sebagai eksperimen untuk melihat keberhasilan teknik kontak-dengan-diri-sendiri tersebut dalam menjadikan Anda pembaca yang lebih kreatif. Jika Anda berhasil, perbarui kontrak untuk beberapa bulan berikutnya.

Langkah 2: Membaca secara ”ngemil”
Berilah waktu untuk membaca singkat ditengah kesibukan sehari-hari. Dengan membaca singkat, Anda memiliki kesempatan untuk membaca beragam materi yang menawarkan sesuatu yang baru dan berbeda tanpa harus menyelesaikan artikel atau teks tertentu. Nikmati saja berapa pun halaman yang bisa Anda baca dalam waktu rehat singkat tersebut.

Anda juga bisa membaca buku atau majalah seperti yang selama ini Anda lakukan, untuk waktu yang lebih panjang. Namun, pembacaan panjang seperti ini memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan dengan membaca singkat selama masa rehat.

Langkah 3: Bacalah dari beragam sumber bacaan
Bacalah dari sebanyak mungkin sumber bacaan dalam masa rehat singkat yang tersedia. Anggaplah membaca seperti ini sebagai ”ngemil”, bukan makan besar pada hari itu. Semakin beragam sumber bacaan Anda, semakin Anda menikmatinya, dan semakin mekarlah basis data ide serta pengetahuan Anda.

Langkah 4: Terapkan apa yang Anda baca dalam kehidupan sehari-hari.

Kiat-Kiat untuk Memahami Bacaan
A. Jadilah pembaca aktif
Jangan lupa dengan enam kata tanya: Siapa? Kapan? Di mana? Apa? Mengapa? Bagaimana? Buatlah teks bacaan menjawab pertanyaan-pertanyaan Anda saat Anda membaca. Ketika Anda bertanya, Anda memusatkan pikiran Anda ke dalam keadaan yang lebih menuntut, mengeluarkan gagasan dari teks seolah-olah Anda menyedot bensin dari dalam tangki.

B. Bacalah gagasan, bukan kata-katanya
Kata-kata yang digunakan seorang penulis adalah alat untuk menyampaikan gagasan-gagasannya, dan satu-satunya cara Anda dapat ”memahami gagasan” tersebut adalah dengan membaca kata-kata dalam konteks yang berhubungan. Ketika Anda membaca kata satu demi satu, otak Anda harus bekerja lebih keras untuk mengartikannya. Membaca kata satu demi satu bagaikan berusaha untuk mengetahui seperti apa bentuk bumerang dengan meneliti molekul-molekulnya. Alih-alih membaca masing-masing kata, dapatkan seluruh gambaran dengan melihat seluruh ungkapan, kalimat, dan paragrafnya.

C. Libatkan indera Anda
Gunakan indera pendengaran Anda dengan membaca secara keras. Bacalah sekali seluruh bacaan itu dengan cepat. Lalu, jika buku itu milik Anda, libatkan indera kinestetik dan visual Anda dengan menggarisbawahi hal-hal yang penting dengan stabilo dan gambarlah sesuatu di tepinya untuk membantu Anda memahami konsep-konsep kunci.

D. Ciptakan minat
Lebih mudah membaca buku ketika Anda agak mengenal subjeknya dan membacanya akan menguntungkan Anda dalam beberapa hal. Sebagai contoh, saya ingin sekali mempelajari teori evolusi yang sering diperdebatkan orang. Namun karena sedikit sekali informasi yang saya peroleh dari bahasa Indonesia, berarti saya harus mempelajari bahasa Inggris. Saya kemudian mempelajari bahasa Inggris, dan dari sana keinginan saya untuk mempelajari informasi lain semakin bertambah besar. Mempercepat membaca bacaan-bacaan yang tepat lebih mudah setelah pemanasan seperti ini.

E. Bacalah kembali tulisan-tulisan yang telah Anda garis bawahi.

Ketika Mata Anda Lelah
Ketika mata Anda lelah, cobalah cara sederhana yang dapat melepaskan stres dan kelelahan ini: Gosok-gosokkan kedua tangan Anda dengan cepat selama beberapa saat, lalu pejamkan mata Anda dan tutuplah dengan tangan Anda, dengan jari-jari yang dirapatkan sehingga cahaya tidak mungkin masuk. Bayangkan diri Anda sedang berada di suatu tempat yang indah dan damai – seperti hutan di mana udara segar dan sejuk, dan pohon-pohon melambai-lambai ditiup angin. Biarkan mata Anda melirik ke atas selama beberapa saat ketika Anda membayangkan tempat yang damai dan nyaman itu. Ikuti gerakan pepohonan ke depan dan ke belakang, atas dan bawah dengan mata Anda, ini sangat baik untuk mengendurkan ketegangan pada otot-otot di sekitar bola mata Anda. Katakan pada diri Anda betapa baiknya pekerjaan yang Anda lakukan, bahwa menjadi pembaca yang baik itu mudah, dan kecepatan membaca dan pemahaman Anda luar biasa! Kemudian secara perlahan-lahan angkat tangan Anda dan buka mata Anda.

~ 0 komentar

Manfaat Menuntut Ilmu Bagi Muslimah


Saudariku, salah satu manfaat memiliki ilmu adalah mengingatkan kita disaat kita ingin berbuat maksiat. Ilmu datang meluruskan yang bengkok dan memberitahukan mana yang benar dan yang salah.

Sungguh sangat merugi orang-orang yang malas menuntut ilmu, karena kepekaannya terhadap dosa menjadi tumpul, dan semangatnya dalam beramal menjadi lemah. Allah Swt. di dalam al-Quran mengaitkan takut kepada-Nya dengan orang-orang yang berilmu, dan mengaitkan kemaksiatan dengan orang-orang yang jahil.

Luangkanlah waktu beberapa menit sehari untuk membaca. Jika engkau ingin membaca lebih dari waktu itu, maka itu lebih baik. Karena ilmu itu sesungguhnya makanan bagi jiwa. Bagi jiwa-jiwa yang lapar, membaca dapat mengenyangkannya. Bahkan menuntut ilmu, menurut Imam Ahmad, hadir bersama dengan tarikan nafas kita.

Setelah engkau membaca, cobalah engkau renungkan secara mendalam apa yang telah engkau baca itu, dan katakan dalam hati, “Apa manfaat yang bisa saya ambil dari tulisan ini?” Kaitkanlah dengan kondisimu saat ini meskipun apa yang engkau baca adalah sejarah masa lalu.

Setelah engkau melalui perenungan itu, cobalah menuliskan renungan tersebut. Dengan cara seperti itu, kita akan mendapatkan pelajaran yang bermanfaat bagi jiwa dan akal kita. Kita akan mudah menyerap, mengamalkan, dan bahkan mengajarkannya kepada orang lain.

Lihatlah saudariku, dari kegiatan membaca, engkau mendapatkan manfaat yang sangat banyak.

~ 0 komentar

Sesudah Kesulitan akan Datang Kemudahan

Bila kita melihat gurun pasir semakin luas tak berujung, ketahuilah di ujung kegersangannya akan dijumpai tanah yang menghijau dengan rimbun dedaunan. Bersama tangisan, akan ada senyuman. Bersama ketakutan, ada rasa aman. Bersama kegalauan, ada ketenangan. Sesudah malam akan datang fajar.“Bukankah fajar shubuh telah dekat?” (QS. Hud: 81).

~ Kamis, 06 Januari 2011 0 komentar

Keutamaan Ikhlas

Keikhlasan itu membuat amal, meskipun sedikit, terasa nikmat dan berkah. Jangan pernah menunggu balasan dari sesama makhluk, melainkan dari Sang Pencipta semata. Dan jangan pernah berharap imbalan dari sesama manusia, melainkan dari Tuhan alam semesta. Hindari kesukaan menarik perhatian, karena bisa merapuhkan penampakan. Hindari pula kesukaan mengundang takjub dan pujian orang, karena mereka tidak akan selamanya demikian.

~ Rabu, 05 Januari 2011 0 komentar

Definisi Musibah

Musibah senantiasa dihindari orang, sekecil apa pun, dan biasanya dikonotasikan dengan keburukan. Dalam sebuah riwayat disebutkan, Ikrimah Ra. Menuturkan bahwa ketika lampu yang digunakan oleh Nabi Saw. tiba-tiba padam, beliau mengucapkan, “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un!” Lalu, ada sahabat yang bertanya, “Apakah peristiwa ini bisa disebut musibah, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ya, setiap hal yang menyusahkan adalah musibah!”

~ 0 komentar

Berharap Hanya Kepada Allah

Jangan berharap kepada manusia karena mereka akan mengecewakanmu. Tetapi berharaplah hanya kepada Allah karena Dia akan memberikan yang terbaik untukmu. "dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap." (QS. Alam Nasyrah: 8) "Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan RasulNya kepada mereka, dan berkata: 'Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah,' (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka)." (QS.at-Taubah: 9) 

~ Senin, 03 Januari 2011 0 komentar

Perbedaan Orang yang Bertakwa dan Ahli Maksiat dalam Memahami Musibah dan Kesenangan

Bagi orang-orang yang bertakwa, setiap musibah yang dialaminya akan segera berlalu. Sedangkan bagi orang-orang fasik, kesenangan yang ia rasakan begitu cepat berlalu. Tidak mungkin kehidupan keduanya sama. Perbedaannya seperti siang dan malam atau seperti orang yang pintar dengan orang yang bodoh. “Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang- orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat?” (QS. Shaad: 28)

~ 1 komentar

Lingkungan Positif

Kita tidak jauh-jauh dari apa yang lingkungan terdekat ciptakan. Lingkungan yang buruk menjerumuskan kita pada kebinasaan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menciptakan lingkungan yang positif. Jika tidak bisa, keberadaan kita pada lingkungan positif harus lebih dominan daripada keberadaan kita pada lingkungan yang negatif. Jika tidak bisa juga, maka kita harus tinggalkan secara menyeluruh lingkungan negatif untuk berhijrah pada lingkungan yang positif.

~ 0 komentar

Isilah Hidup ini dengan Dzikrullah dan Amal Saleh

Allah Swt. berfirman dalam salah satu ayat-Nya, “Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongganya.” (QS.al-Ahzab: 4). Artinya, apabila hati dalam keadaan taat kepada Allah – selalu ingat kepada-Nya dan senantiasa menyibukkan diri dengan hal-hal positif, setan tidak akan mampu menyesatkan kita. Hal ini sesuai dengan pernyataan salah satu hukum alam: Suatu hal yang sangat mustahil bagi otak manusia betapa pandainya pun ia untuk memikirkan lebih dari satu hal pada waktu bersamaan!

~ 0 komentar

Membiasakan Diri Berdoa

Betapa banyak orang yang telah melupakan doa sehingga hidupnya resah dan gelisah. Mereka mencari pertolongan kepada makhluk yang tidak dapat memberikan manfaat dan mudharat. Mereka berusaha menyelesaikan masalah yang mereka hadapi hanya dengan akal mereka saja, dengan mengesampingkan aspek spritual. Sehingga hati mereka menjadi kering dan gersang. Padahal jika mereka mau, mereka dapat berdoa, “Ya Tuhan...” Tetapi lisan mereka terasa kelu, sulit untuk berdoa. Untuk memulai sesuatu yang belum biasa diucapkan memang perlu kesadaran dan melalui sedikit pemaksaan.

~ 0 komentar

Rahmat-Nya Tidak Terbatas

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.” (QS. al-Kautsar [108]: 1-3).


Surat ini ditujukan kepada Nabi Muhammad Saw. Namun, bukan berarti ayat-ayat itu berhenti pada diri Nabi Saw. Karena jika berhenti, al-Quran diturunkan bukan untuk umat manusia hingga akhir zaman. Surat itu, secara tidak langsung, juga ditujukan kepada kita, sebagaimana sebuah kaidah masyhur mengatakan, “al-ibratu bi’umumil lafzhi laa bikhushusish sabab, ungkapan itu ada pada umumnya lafaz, bukan pada sebab yang khusus.”

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.” Al-Kautsar adalah kata bentukan dari kata al-katsrah, yang berarti banyak tak terbatas. Jika kita pikirkan tentang nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita, maka jumlahnya sangat banyak dan tak terbatas. Oleh karena itu, ketika ada satu kenikmatan hilang dari kita, bukan berarti Allah membenci kita, karena masih banyak kenikmatan lainnya yang telah diberikannya kepada kita. “Dan jika kalian hendak menghitung nikmat Allah niscaya kalian tidak akan bisa menghitungnya.” (QS. Ibrahim [14]: 34).


Orang-orang yang mengidap penyakit missing tile syndrom (sindrom genteng hilang) selalu bersedih dengan kenikmatan yang hilang itu. Diibaratkan, ada sebuah genteng rumahnya yang hilang, ia bersedih karenanya, padahal masih banyak genteng yang lain. Tingkah laku seperti itu adalah tingkah laku orang-orang yang kufur nikmat. Sedangkan ayat di atas adalah hiburan sekaligus peringatan bahwa Allah telah memberikan banyak sekali kenikmatan kepada kita.

Allah memberikan jalan bagi mereka yang mau bersyukur, yaitu dengan mendirikan shalat dan memotong hewan qurban. Shalat merupakan aspek hablumminallah sedangkan memotong hewan qurban memiliki aspek hablumminannas. Sekalipun memotong hewan qurban bukan merupakan kewajiban, tapi ia merupakan perbuatan yang mulia (sunah muakadah), yang sangat dianjurkan Nabi. Dengan memotong hewan qurban dan membagikannya kepada fakir miskin, menunjukkan bahwa, ternyata nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita sangat banyak.

Orang-orang yang taat kepada Allah dan mensyukuri nikmat-nikmat-Nya, jangan sampai bersedih karena lepasnya satu nikmat atau merasa dirinya tidak mendapat rahmat Allah. Sesungguhnya mereka yang jauh dari ketaatan, berlaku zalim dan sangat memusuhi agama adalah yang telah terputus dari rahmat Allah Swt. Yang dimaksud kata “terputus” dalam ayatnya, “Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus,” adalah terputus dalam artian sebenarnya. Karena keimanan, kebenaran dan kebaikan tidak mungkin akan terputus. Cabang-cabangnya akan terus berkembang dan akar-akarnya akan terus menghujam ke dalam. Sedangkan kekafiran, kebatilan, dan keburukan itulah yang pasti terputus, sekalipun tampak berkembang, maju, dan perkasa.

Demikianlah Allah telah menerangkan kepada kita dalam salah satu surat-Nya. Sebuah gambaran tentang betapa banyak nikmat yang telah Dia berikan kepada kita, namun sedikit sekali kita mensyukurinya. Bagi mereka yang mau mensyukuri nikmat itu, kelak Allah akan memberinya rahmat yang tak pernah putus-putusnya.

~ Minggu, 02 Januari 2011 0 komentar

Doa untuk Sahabat

Seringkali kita dimintai doa oleh sahabat-sahabat kita. Ada yang berharap agar lulus dari ujian, ingin segera mendapatkan jodoh, dapat membina keluarga sakinah, atau yang lainnya.

Kadang doa itu kita panjatkan dan banyak di antaranya malas atau lupa kita melafazkannya. Kita hanya berujar kepada mereka, “Saya hanya bisa mendoakan kamu.” Tetapi kita tidak benar-benar mendoakannya. Kita hanya bisa menyenangkan hatinya dengan kata-kata yang singkat itu.

Tidakkah kita sadari bahwa, orang-orang yang membutuhkan doa dari kita pasti sangat ingin mendapatkan apa yang diinginkannya itu? Namun seringkali kita tidak menindaklanjuti permintaan itu dengan tengadah tangan menghadap Allah. Ketika akhirnya sahabat kita gagal mendapatkan apa yang diinginkannya, kita hanya bisa mengatakan, “Sabar ya, Insya Allah semua ini ada hikmahnya.” Kita mengatakan itu seolah-olah kita telah membantunya secara maksimal.

Saudariku, sesungguhnya dengan cara seperti itu kita belum termasuk orang-orang yang membahagiakan sahabat kita. Atau mungkin kita termasuk orang-orang yang iri dan dengki ketika melihat sahabat kita bahagia dan berhasil?

Duhai, betapa celakanya kita disebabkan oleh kedustaan kita. Mulut kita mengatakan, “Saya akan mendoakanmu.” Namun ucapan itu tidak pernah terealisasi nyata. Bukankah hal itu tidak ada bedanya dengan mulut-mulut para pendusta?

Sahabatku, para ulama salaf mendoakan sahabat-sahabatnya sekalipun tidak diminta. Mereka menyebut satu persatu nama sahabatnya dalam doa-doa panjang mereka. Mereka ingin melihat kebahagiaan sahabatnya di dunia maupun akhirat. Mereka ingin sama-sama masuk surga. Jika mereka melihat sahabatnya bahagia, mereka turut bahagia tanpa ada iri dan dengki di dalamnya. Jika melihat sahabatnya sedih, mereka segera membahagiakannya dan mendoakannya dikeheningan malam dengan linangan airmata, agar Allah memberinya kesabaran dan meringankan beban penderitaannya.

Ketika Allah menurunkan rahmat untuk sahabatnya itu, ia sama sekali tidak mengatakan kesana kemari, “Aku yang mendoakan kamu sehingga kamu begini.” Ia hanya mengatakan, “Alhamdulillah, saya sangat senang melihat engkau kini bahagia.” Ia mengucapkannya dengan setulus hati dan merasakan betapa dekat pertolongan Allah itu.
Saudariku, sudahkah engkau membahagiakan orangtuamu, sahabat-sahabatmu, dan kaum muslimin yang membutuhkan pertolonganmu, walaupun hanya dengan bait-bait doa yang khusyu dikeheningan malam?

~ Sabtu, 01 Januari 2011 0 komentar